A. STUDI KASUS
B. DEFINISI
Tuberkulosis adalah suatu penyakit kronik menular yang disebabkan oleh BAKTERI Mycobacterium TUBERCULOSIS. Sebagian besar kuman TB sering ditemukan menginfeksi parenkim paru dan menyebabkan TB paru, namun bakteri ini juga memiliki kemampuan menginfeksi organ tubuh lainnya (TB ekstra paru) seperti pleura, kelenjar limfe, tulang, dan organ ekstra paru lainnya.
C. PREVALENSI
Jumlah kasus baru TB di Indonesia sebanyak 420.994 kasus pada tahun 2017 (data per 17 mei 2018). Berdasarkan jenis kelamin jumlah kasus baru tbc tahun 2017 padalaki-laki 1,4 kali lebih besar dibandingkan pada perempuan.
D. ETIOLOGI
E. MANIFESTASI KLINIK
F. DIAGNISIS
G. SISTEM SKORING TB ANAK
Parameter sistem skoring :
Kontak dengan pasien TB BTA positif diberi skor 3
Penentuan status gizi :
- Berat dan tinggi badan
- Dilakukan dengan parameter BB/TB atau BB/U. Penentuan status gizi untuk anak <6 tahun merujuk pada buku KIA Kemenkes 2016, sedangkan untuk anak usia>6 tahun merujuk pada standar WHO 2005 yaitu grafik IMT/U
- Bila BB kurang, dilakukan upaya perbaikan gizi dan di evaluasi selama 1-2 bulan.
I. TB PADA KONDISI KHUSUS
K. DOSIS DAN CARA PENGGUNAAN
Cara pembacaan dan penggunaan regimen OAT :
Angka sebelum huruf = Durasi
Angka setelah huruf = Frekuensi (Jika tidak ada, dianggap diminum setiap hari)
L. ATURAN PENGGUNAAN OBAT
M. EFEK SAMPING OBAT
N. TERAPI NON FARMAKOLOGIO. DIPERBOLEHKAN DAN DILARANG PADA PENGOBATAN TB
- Bayi < 5 Kg Pemberian OAT terpisah
- Apabila ada kenaikan BB maka jumlah tablet disesuaikan dengan BB
- Untuk anak dengan obesitas berdasarkan berat badan ideal (Berdasarkan umur)
- OAT KDT harus deiberikan utuh tidak boleh dibelah atau digerus
- Obat dapat diberikan dengan cara ditelan utuh atau dimasukan air dalam sendok
- Obat diberikan dalam perut kosong atau paling cepat 1 jam sesudah makan
- Bila INH dikombinasikan dengan Rifampisin dosis INH tidak boleh melebihi 10 mg/kgBB/hari
- Apabila OAT lepas diberikan dalam bentuk puyer maka obat boleh digerus Bersama dan dicampurkan dengan puyer
P. PEMANTAUAN MAKAN OBAT ( PMO )
Q. INFO PENTING YANG PERLU DI PAHAMI SAAT PMO
- TB disebabkan bakteri, bukan kutukan
- TB dapat sembuh bila berobat teratur
- Cara penularan TB, gejala-gejala yang mencurigakan dan cara pencegahannya.
- Cara pemberian pengobatan pasien (tahap intensif dan lanjutan).
- Pentingnya pengawasan supaya pasien berobat teratur.
- Kemungkinan terjadinya efek samping obat
R. SISTEM PEMANTAUAN OBAT
Dalam sistem pemantauan minum obat, Ada lima komponen dalam strategi DOTS (Directly Observed Treatment Short cours), yaitu :
- Komitmen politis dari pemerintah untuk menjalankan program TB nasional.
- Diagnosis TB melalui pemeriksaan dahak secara mikroskopis.
- Pengobatan TB dengan paduan Obat Anti Tuberkulosis (OAT) yang diawasi langsung oleh Pengawas Minum Obat (PMO).
- Kesinambungan persediaan OAT.
- Pencatatan dan pelaporan menggunakan buku untuk memudahkan pemantauan dan evaluasi program penanggulangan TB Paru.
S. KETIDAKPATUHAN MINUM OBAT/ LUPA MINUM OBAT
T. INFORMASI PENTING TERKAIT MONITORING HASIL TERAPI OBAT
- Efek penggunaan OAT KDT (isoniazid) terjadi Neuropati perifer atau defisiensi Vitamin B6, maka disarankan pemberian tambahan Vit B6 pada terapi.
- Perubahan warna Urin/Feses menjadi merah atau kecoklatan karena efek samping Terapi Rifampicin, hal ini tidak membahayakan pasien.
- Penggunaan OAT KDT dalam jangka waktu lama meningkatkan resiko Hepatotoksisitas, disarankan tambahan suplemen kesehatan liver.
- Dalam penggunaan antibiotik kombinasi pada terapi TB perlu pemantauan faktor Resistensi obat.
- Kontrol dosis terapi yang sesuai dan tes tuberculin/PPD Test, untuk memaksimalkan terapi obat.
DAFTAR PUSTAKA
- Departemen Kesehatan Republik Indonesia.(2009). Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis.Edisi 2. Cetakan Kedua. Jakarta.
- Kemenkes RI. 2016. “Petunjuk Teknis Manajemen Dan Tatalaksana TB Anak.” Ministry of Health of the Republic of Indonesia:
- PMK Nomor 67. ( 2016 ). Penanggulangan Tuberkolosis. Jakarta.
- Priyandani, Y., Fitantri, A. A., Abdani, F. A. N., Ramadhani, N., Nita, Y., Mufarrihah, Setiawan, C. D., Utami, W., Athijah, U., 2014. Profil Problem Terapi Obat Pada Pasien Tuberkulosis di Beberapa Puskesmas Surabaya, Jurnal Farmasi Komunitas. 1 (2), 30-35.
- Sotgiu, Giovanni., Centis, Rosella., D’ambrosio, Lia., Migliori, Giovanni Battista. 2015. Tuberculosis Treatment and Drug Regimens. Cold Spring Harb Perspect Med, (5): 1-5.
- Pusat Data Dan Informasi Kementrian Kesehatan RI. Infodatin Tuberkulosis. Kemenkes RI. 2018
- Kemenkes RI. Tatalaksana Tuberkulosis. Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran. Jakarta. 2020
" SEMOGA BERMANFAAT"








